LA TAHZAN YA HABIBIY
La Tahzan Ya Habibiy
Pengantar
Tak ada satu peristiwapun dimuka bumi ini kecuali sudah tersirat
menjadi takdir. Takdir yang dialami terkadang memang tidak sesuai harapan dan
kemampuan, seakan-akan saking dahsyatnya peritiwa itu rasanya ingin berteriak
sekeras-kerasnya agar didengar langit sebagai petanda menyerah pada keadaan, itulah
bayanganku. Lebih jauh dari itu keadaan yang tak bersahabat sesuai harapan
adalah sebuh misteri yang tak diketahui kapan datang dan perginya. Mungkin jika
tidak beragama islam yang hanya menyandarkan segala urusan kepada akal takkan
mampu membendung teka-teki kehidupan ini.
Saat merenung sendiri melihat masa lalu ibarat hanya diriku yang
ditimpa musibah bertubi-tubi seperti itu. Lama-kelamaan syetan hadir
mengelabuhi pikiran dan perasaan. Lalu pikiran dan perasaan menyatu mulai
gundah menolak kenyataan yang terjadi. Muncullah ingatan seandainya tidak
demikian pasti demikian? Sambil menyesali yang sudah terjadi.
Sebagaimana kata-kata bijak hidup ibarat air laut kadang pasang
kadang surut. Pasang menunjukkan kita berada diatas bahagia dengan peristiwa
yang ada bahkan terkadang tertipu lupa pada siapa yang memberi kebahagiaan itu
sesungguhnya. Surut berarti posisi kita sedang tidak baik-baik saja menurut
prasangka diri bukan menurut pandangan sang Maha Kuasa. Mengapa bisa demikian?
Karena rencana Allah swt tidak ada yang tahu bisa jadi yang tidak terduga
itulah yang diridlainya amin ya rabbal ‘alamin.
Jangan pernah menghukum masa depan atas kesalahan masa lalu. Biarlah
perjuangan yang menentukan arah masa depan sedangkan masa lalu jadikan sebagai
kenangan dan pelajaran. Itulah kalimat yang pas jika kita pahami secara seksama
kandungan ayat:
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ ٥ اِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ ٦ فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ٧ وَاِلٰى رَبِّكَ
فَارْغَبْ ࣖ ٨
Artinya: Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,
sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah
selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap. (QS. Al-Insyirah: 5-8)
Pesan yang disampaikan pada ayat diatas Allah telah berjanji
kebahagiaan itu pasti terjadi lalu mengapa kesulitan datang bertubi-tubi? Pada
ayat 5 dan 6 kata kemudahan diletakkan diakhir atau didahului kata kesulitan
hal ini menandakan dua hal. Pertama, kepastian jalan yang mudah akan terjadi
setelah kesulitan. Kedua, kebahagiaan yang datang setelah kesulitan itu lebih
nikmat rasanya. Akhir dari ayat tersebut mengandung kata perintah untuk selalu
berharap dan merendahkan diri pada-Nya.
Menyesali masa lalu kalau itu buruk menjadi keharusan tetapi bila
itu sebuah takdir yang sudah diusahakan tetapi masih gagal lantas merasa kecewa
tidak masalah karena kita manusia. Tetapi yang terpenting jangan sampai keadaan
itu membuat kita berlarut-larut dalam kesedihan atau bahkan putus asa. Masalah
besar yang terus dipikirkan malah akan membebani hidup dan membuat batin lebih
terpuruk. Maka bangkitlah dan katakan pada masalah aku punya Allah Yang Maha
Besar!
Untaian rasa syukur alhamdulillah atas berkat pertolongan
dari-Nya buku curhatan ini dapat selesai meskipun masih jauh dari kesempurnaan.
Gagasan yang tersirat tak mampu menghipnotis para pembaca terkesima hanya saja
mungkin ada sebagian teks atau kalimat yang bisa dijadikan motivasi hidup
terutama bagi sang istri tercinta yang saat ini masih setia mendampingi dikala
suka dan duka. Shalawat dan salam semoga tetap senantiasa mengalir kepada
baginda Nabi Muhammad saw yang telah meninggikan kita dengan kokohnya iman,
mengabdi dengan Islam dan bertindak dengan ihsan serta memahaminya dengan ilmu.
Semoga kiranya beliau berkenan mengulurkan tangan mulianya agar kami sekeluarga
bisa menikmati ihdahnya wujud Allah dan Rasul-nya di surga kelak.
Buku ini berjudul La Tahzan Ya Habibiy yang berarti “Jangan
Bersedih Kekasihku” ditulis dengan maksud menumpahakan isi hati dan pikiran
yang telah lama terbendung dan memberikan motivasi hidup bagi mereka yang
harapannya masih belum terwujud. Selain itu disajikan pula cerita perjalanan
hidup penulis bersama keluarga semoga
dapat memberikan sumbangsih pelajaran kebaikan bagi para pembaca terkhusus
untuk kami sendiri tatkala merasa letih.
Buku ini selesai tepat malam Jumat 14 Rajab 1445 H dan pasti banyak
hal yang mungkin ditemukan dari buku sederhana ini baik dari kosa-kata, narasi atau
makna yang tidak sepadan. Maka diharapkan bagi pembaca untuk menyumbangkan
pikirannya dengan memberikan masukan agar buku ini bisa mendekati kesempurnaan.
Penulis menyadari setiap usaha pasti ada hasil dan setiap hasil pasti berujung
baik dan buruk tergantung jenis usaha yang dilakukan. Prinsip yang diambil
bukan karena banyak atau kualitasnya yang dilihat tapi sesuai kadar kemampuan
diri sendiri. Barangkali selangkah demi selangkah akhirnya bisa juga berkualitas
dan yang perlu dijaga secara keberlanjutan adalah kebiasaan membaca dan
menulis. Seorang yang suka membaca belum tentu bisa menulis tetapi setiap penulis
pasti meniti jalan lewat membaca.
Kesempurnaan hanya milik Allah swt maka ijinkan kami meminta maaf
jika terdapat kesalahan dalam karya ini.
Pamekasan, 25 Januari 2024
Penulis
Moh Fahrun
Bagi para pembaca yang budiman download DISINI
Komentar
Posting Komentar