MAULID SANG PELITA DUA DUNIA
Pengantar
Assalamu
‘alaikum wr wb.
Tak ada kata yang pantas untuk dilantunkan selain pujian al-Hamdulillah
atas segala limpahan rahmat, nikmat dan pertolongan-Nya sehingga kita semua
masih diberikan Kesehatan dan kesempatan untuk selalu bertobat dan berbuat baik
secara vertical berupa ibadah kepada-Nya dan secara horizontal bergaul dengan
sesama dalam rangka untuk menguatkan tali agama Islam yang keutuhannya sangat
dianjurkan sebagai bentuk persatuan secara agamis (muslimin) dan persatuan
secara kemanusiaan (bangsa).
Nikmat-Nya tak terhitung meskipun anggapan kita yang disebut rezeki
hanya harta benda yang bertambah. Padahal seyogyanya semua yang berhubungan
dengan diri ini baik fisik maupun batin adalah fasilitas yang disediakan
oleh-Nya kepada seluruh makhluk. Akan tetapi sebagian kecil dari kita yang
bersyukur. Semoga kita semua bisa dijadikan orang yang bersyukur dan diijabah
semua harapan yang masih tertunda amin.
Untaian shalawat dan salam allahumma shalli ala sayyidina Muhammad
wa ala alihi wa shahbihi ajma’in semoga senantiasa mengiringinya. Selaku
umatnya yang berlumur dosa seakan-akan jika direnungi jauh dari kelayakan
bersamanya. Tetapi kita tidak boleh pesimis karena takdir yang terjadi
tergantung dari prasangka seorang hamba dan sudah seharusnya berharap syafaat
beliau di dunia dan diakhirat menjadi dambaan setiap umat manusia.
Berdasarkan harapan besar itu setiap orang berbeda-beda dalam
menyatakan kebahagiaannya. Adakalanya dengan mengikuti sebagian atau separuh
syariatnya. Sebagian lagi menjalankan adat yang berlaku didaerahnya dan
dianggap baik sehingga dapat membujuknya untuk menumbuhkan kecintaan kepadanya
seperti halnya merayakan maulid Nabi Muhammad saw pada bulan Rabi’ul Awal dan
bulan lainnya.
Kepuasan tersendiri bagi orang yang mengamalkannya tidak bisa
dibantah dengan alasan “bid’ah”. Malah semakin banyak yang mencemoohnya semakin
banyak orang yang merayakannya karena sudah menjadi adat yang dijadikan sumber
hukum “al-‘Adah Muhakkamah”. Terkhusus di wiliyah Madura dimana penulis tinggal,
hampir setiap pelosok bahkan dalam sehari bisa tiga sampai empat rumah yang
merayakannya.
Mengingat maulid menjadi bagian dari Ibadah menurut penulis maka
penulis berinisitif untuk menuliskan hal-hal penting terkait maulid tersebut.
Tulisan sederhana ini dari segi isi memang sangat jauh jika dibandingkan dengan
karya ulama besar sebelumnya tetapi paling tidak karya ini bisa memberikan
sedikit pemahaman terutama kepada anak dan santri dari penulis sendiri secara
khusus dan secara umum kepada seluruh para pembaca yang masih belum bisa
memahami teks bahasa arab dengan baik.
Penulis juga berharap para pembaca yang alim-alim untuk memberikan
masukan dan saran agar buku ini menjadi lebih bermakna dan menjadi wasilah untuk
penulis sekeluarga menuju surga bersama baginda Nabi saw.
Akhir kata semoga buku ini bisa memberikan manfaat dan pahalanya
mengalir kepada penulis di dunia dan akhirat. Amin ya rabbal ‘alamin
Wassalamu
‘alaikum wr wb.
Pamekasan, 17 November 2024
Penulis
Moh Fahrun
Baca selengkapnya....... Download
Komentar
Posting Komentar